Sering kali kita semua mendengar istilah "selingkuh = selingan keluarga utuh". Namun kita tentu akan mengatakan itu mustahil dilakukan oleh seseorang yang telah berumah tangga. Mana ada selingkuh yang bisa membuat keluarga semakin utuh? Bukankah selingkuh itu membuat sebuah keluarga yang dulunya utuh menjadi berantakan? Atau malah karena selingkuh menjadikan sebuah keluarga menuju kearah perceraian? Itu yang paling banyak terjadi di masyarakat kita yang disebabkan dari selingkuh. Namun jangan langsung menyalahkan 100% kepada orang yang memainkan cintanya di belakang pasangan hidupnya di keluarga. Coba kita menilai secara obyektif pelaku selingkuh itu, kenapa dia sampai melakukan selingkuh. Walaupun memang selingkuh itu menyakiti orang yang dahulunya kita cintai.
Di sini penulis mencoba menuliskan sebuah kisah yang belum lama terjadi pada teman saya. Dan ini akan menjadi pelajaran yang bermanfaat bagi pembaca semuanya dengan mengambil sisi positif dari kisah ini.
Ada sebuah keluarga yang telah 5 tahunan menjalani hidup berumah tangga, dan telah dikaruniai seorang anak yang kini berumur 4 tahun. Sebut saja keluarga Dika (nama samaran) biar lebih mudah menceritakan kejadian di keluarga Dika. :faint: Memang semenjak lulus sekolah Dika merantau ke Surabaya untuk mengadu nasih di kota metropolis ke dua di Indonesia setelah Jakarta. Dan selama bekerja memang anak tersebut tidak pernah lupa akan ajaran agama dari podok pesantren dulu. Nampak sekali kalau Dika ini seorang yang tekun dalam bekerja dan beribadah, sehingga tetangga di desanya tertarik dengan kepribadian anak tersebut. Kebetulan sekali tetangga ini memiliki seorang anak perempuan. Karena keakraban keluarga Dika ini dengan tetangga yang memiliki anak perempuan menginginkan adanya perjodohan antara orang tua. Dan singkat cerita terjadilah pernikahan antara Dika dengan gadis tetangganya.
Setelah setahun lebih menjalani pernikahan, maka Dika telah dikaruniai seorang anak. Awalnya sang istri dan anaknya ikut merantau ke Surabaya, namun karena keinginan dari sang mertua Dika, maka istri beserta anaknya tinggal di desa.
Sebulan, dua bulan berjalan normal saja, sebab Dika sering berkunjung ke desa untuk menengok anak istrinya. Namun karena di Surabaya merasa bebas dan lepas dari pengawasan istrinya, maka pergaulannya layak anak bujangan. Hingga mengenal seorang janda beranak satu, namun masih cantik dan muda sekali (katanya lho :D ). Sebenarnya sang janda ini tahu kalau Dika ini telah beranak istri, dan Dika juga tahu kalau Liza (nama samaran janda itu) tahu kalau telah janda dan beranak satu. ( :doh: tahu sama tahu :) ) Mungkin karena kebebasan Dika dan pengalaman Liza menggaet laki-laki, maka terjadilah pacaran yang diluar kewajaran pacaran anak-anak bujangan lainnya.
Karena yang menjalani pacaran ini adalah seorang yang pernah berumah tangga, maka terjadilah hubungan diluar kendali manusia sadar. Hingga menjadikan Liza memiliki benih janin dari Dika walaupun itu diluar keinginan masing-masing. Kebingungan pun melanda kehidupan Dika dan fikiran Liza. Bagaimana tidak bingung, lha wong Dika masih memiliki anak istri yang masih sah dan Liza belum terikat tali pernikahan dengan Dika. Dan SETAN pun membisikkan ajiannya untuk menggugurkan kandungan yang berasal dari keinginan di luar kendali normal. Berbagai cara dilakukan untuk menutupi aib yang telah terjadi itu. Baik dengan pijat ke dukun bayi, obat-obatan maupun dengan terapi.
Seperti pepatah "biarpun ditutup rapat, kalau bangkai tetap saja tercium juga". Seperti itulah kiranya aku menggungkapkan kejadian Dika dengan Liza. Sebab keluarga istri Dika mengetahui kelakuan suaminya yang telah menghamili anak orang. Namun hebatnya keluarga istri Dika malah ikut membantu membiayai pengguguran janin yang telah dititipkan Dika kepada tubuh Liza. Dengan catatan tidak mengulangi lagi dan pertimbangan keluarga istrinya Dika supaya anaknya tidak terlantar. Sebab masih memilikí anak yang masih kecil agar tidak kehilangan kasih sayang. Selain itu Dika diharuskan pulang ke desa dan tidak lagi bekerja di Surabaya. Atau lebih pantasnya hidup bareng anak istrinya di desa dengan bertani saja.
Kurang lebih 6 bulan Dika hidup di desa dan meninggalkan pekerjaannya di Surabaya. Entah bagaimana hubungan keluarganya saya kurang tahu persis, sebab tidak terdengar lagi kabar dari anak-anak se kantorku. Namun pada bulan ke 7 atau ke 8 setelah pulangnya Dika ke desa, saya mendengar bahwa Dika pengen sekali balik ke Surabaya untuk bekerja lagi di perusahaan yang dulu. Atas dasar apa dia kembali, hanya Dika yang tahu pasti. Dan ternyata terlaksana juga Dika ke pekerjaan lama di perusahaan yang di tinggalkan dulu.
Lebih mengejutkan lagi, ternyata setelah 3 bulan bekerja di perusahaan yang sama denganku, Dika kembali menjalin hubungan dengan Liza yang lama tidak bersua. Ini sungguh diluar penilaianku tentang sosok Dika yang aku kenal dulu. Heran, kagum atau penasaran dan rasa apa yang ada di hatiku melihat kejadian yang super teramat parah dalam hidupku. Baru kali ini aku mengalami memiliki teman yang begitu enteng menelantarkan istrinya sendiri dan menjalin hubungan gelap dengan wanita lain. Kini hubungan keluarganya diujung titik perpisahan. Dika ternyata memilih hidup dengan Liza yang dipandangnya lebih memberikan kebahagiaan.
Semoga kisah ini menjadi pelajaran bagi penulis khususnya dan para pembaca pada umumnya. Sehingga kita semua dapat menjauhkan diri dari sifat dan perilaku selingkuh yang dapat merugikan orang lain (keluarga yang pernah kita cintai).
12/10/11
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar