25/06/10

kalatidha

bubuka (pendahuluan)
(tembang sinom 1 bait)

wahyaning arda rubeda,
kiPujangga amengeti,
mesu cipta matiraga,
mudhar warananing gaib,
sasmitaning sakalir,
ruweding sarwa pakewuh,
wiwaling kang warana,
dadi badaling Hyang Widdhi,
amedharken paribawaning bawana.
Terjadilah angkara murka (merupakan) gangguan, Ki Pujangga mencatat (kejadian itu), (dengan) memusatkan pikiran menindas nafsu manusiawi, menyingkap tirai yang tak kelihatan (oleh mata kepala), (yang menutupi) tanda-tanda segala keadaan, yang sulit serba berbahaya, (setelah tirai tersingkap sang Pujangga) bagaikan wakil Tuhan, menguraikan kesengsaraan.

ISI SERAT KALATIDHA

mangkya darajating praja,
kawuryan wus sunya ruri,
rurah pangrehing ukara,
karana tanpa palupi,
atilar silastuti,
sarjana sujana kelu,
kalulun Kalatidha,
tidhem tandhahing dumadi,
ardyangrat dening karoban rubeda.
Sekarang martabat negara, tampak telah sunyi sepi, (sebab) rusak pelaksanaan peraturannya, karena tanpa teladhan, meninggalkan peraturan baik, orang-orang pandai dan ahli terbawa, terbawa (arus) jaman terkutuk, (bagaikan) kehilangn tanda-tanda kehidupannya, (karena mengetahui) kesengsaraan dunia yang tergenang dalam berbagai halangan.

Ratune ratu utama,
patihe patih linuwih,
pra nayaka tyas raharja,
penekare becik-becik,
parandene tan dadi,
paliyasing Kalabendu,
malahsangkin andadra,
rubeda kang ngreribedi,
beda-bedaardane wong sanagara.
Rajanya raja utama, patihnya seorang patih yang amat pandai, para mentrinya bertekad selamat, para punggawa rendahan dan atasannya baik-baik, namun tidak terjadi, pencegah zaman terkutuk, berbeda-beda loba angkara orang diseluruh negeri.

Katatangi tangisira,
sira sing paramengkawi,
kawiletingtyas duhkita,
kataman ing reh wirangi
dening upaya sandi,
sumaruna anaruang,
pangimur manuara,
met pamrih melik pakolih,
temah suha ing karsa tanpa weweka.
(maka) bangkitlah tangisnya, beliau sang pujangga, (karena) tertimpa rasa malu (kepada Tuhan) oleh fitnah orang, (yang) meyertai dalam pergaulan (Ki Pujangga), (pura-pura) menghibur hati (Ki Pujangga), (tetapi sesungguhnya) mencari keuntungan, akhirnya berantakan cita-cita (Ki Pujangga) karena tanpa hati-hati.

dhasar karoban pawarta,
babaratan ujar lamis,
pinudya dadya pangarsa,
wekasan malah kawuri,
yen pinikir sayekti,
pedah apa aneng ayun,
andhedher kaluputan,
siniraman banyu lali,
lamun tuwuh dadikakembanging beka.
memang banjir berita, (yang) dibawa angin (yaitu) ujar mengenakan hati, (kata sang Pujangga) dipilih menjadi pemuka (pembesar), (tetapi) akhirnya malah terbelakang, bila dipikir benar-benar, apakah gunanya dimuka ( menjadi pembesar), (tidak lain tentu) menanam benih kedalahan,tersiram air (yang mempunyai daya menjadikan) lupa, kalau tumbuh (niscaya) menjadilkan bertambahnya bencana.

ujaring Panitisastra,
awawarah asung peling,
ing jaman keneng musibat,
wong ambek jatmika kontit,
mengkono yen niteni,
pedah apa amituhu,
pawarta lalawora,
mundhak angraranta ati
Angurbaya ngiketa ceriteng kuna.
tersebut dalam (kitab) Panitisastra, memberi ajaran dan peringatan, di dalam jaman terkutuk, orang sopan (menjadi) amat ketinggalan, demikianlah kalau (orang) mau mencamkan, (maka) apakah faedahnya percaya, berita yang tak berarti, tambah lebih menyakitkan hati, lebih baik (sang pujangga)mengubah cerita-cerita kuna.

keni kinarya darsana,
penglimbang ala lan becik,
sayekti akeh kewala,
lalakon kang dadi tamsil,
masalahing ngurip,
wahananira tinemu,
temahan anarima, mupus papasthening takdir,
puluh-puluh anglakoni kaelokan.
(cerita itu) dapat dipakai teladan,(untuk) membanding-bandingkan yang buruk dan yang baik, tentulah banyak saja, lelakon yang menjadi contoh (baik)(tentang) masalah hidup, lalu dapat ketemu, akhirnya dapat menerima (memahami), (lalu) sadar akan ketentuan takdir, apa boleh buat mengalami keajaiban.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar